Minggu - minggu ini adalah minggu yang penuh syukur karena selain kami diberi kesehatan, juga diberi rejeki yang berkelimpahan.
Sayangnya, the more money, the quicker it goes away.
Huhuhuhuhuhuuuu, paarahnya saya adalah orang yang impulsive sekaligus orang yang suka menyesal.
Sebenarnya sudah banyak diskusi yang saya dan suami lakukan, semisal kesadaran kami bahwa, jika ingin kaya rumusnya adalah: Memaksimalkan pendapatan + meminimalkan pengeluaran.
NAmun ternyata sulit. Tetap saja uang itu keluar untuk sesuatu yang sangat tidak perlu.
Lalu saya menghibur diri dengan googling. siapa tau ada artikel yang bisa menjadi pelipur lara. Hehhee, gak cuma itu dink. Harapan saya, mulai saat ini saya bisa menjadi pengelola keuangan yang baik (bersama suami tentu saja). Karena saya sadar betul, masalah besar yang terus saya alami sejak belum menikah adalah buruknya menejemen keuangan.
Dan ternyata saya menemukannya. Artikel ini ditulis oleh Oleh: DR. Dwi Suryanto ( www.pemimpin-unggul.com )
Sangat berguna buat pencerahan saya. Yang pasti, pas banget buat resolusi akhir taun, demi menyambut dan menghadapi tahun berikutnya dengan lebih baik. Amin,
Ketika saya berkunjung kepada pejabat tua itu di rumahnya yang cukup mewah, ia dengan bangganya menunjukkan setumpuk buku tulis biru. Buku-buku itu ternyata ditulisnya sejak muda, bahkan mungkin sejak mereka mulai menikah. Apa isi buku itu? Berisi catatan pengeluaran dan pemasukan keluarga itu.
"Dengan mengisi dan mengamati pola-pola pengeluaran, saya jadi bisa tahu banyak pos-pos yang sesungguhnya kurang penting, tapi sering kali menyita uang kita," demikian ia memberi penjelasan kepada saya.
Saya amati mungkin lebih dari 20 buah buku biru (merknya mungkin Leces atau 555). Ia melanjutkan, "Dengan cara seperti ini saya bisa mengatur keuangan saya. Saya bisa menabung. Hasilnya, lihat rumah ini. Jauh lebih mewah dari orang-orang kita bukan?"
Ia melanjutkan uraiannya dengan memberi contoh betapa banyak pejabat yang di masa tuanya susah karena tidak punya rumah...
Komentar saya waktu itu (dalam hati), "Apa ada manfaatnya. Kalau kita bisa nambah penghasilan, bukankah beli rumah atau menabung itu perkara mudah..."
Pembaca, komentar saya setelah saya evaluasi saat ini ternyata salah. Walau pendapatan berlipat-lipat, tapi pengeluaran juga demikian beragam, mulai dari kursus anak, kuliah, ikut seminar, beli buku, rekreasi dst, hingga handphone yang harus diganti karena kita anggap ketinggalan mode dsb.
Inilah yang terjadi di sebagian besar kita. Ketika pendapatan naik, pengeluaran selalu naik, dan kadang lebih besar dari pendapatan. Jika keadaan itu menimpa setiap orang, semestinya harus ada manajemen keuangan pribadi.
Banyak buku-buku yang menawarkan tentang personal finance itu. Kita beli buku, baca, terinspirasi...untuk kemudian kita lupakan dan kita kembali ke pola lama.
Ketika saya kerja dengan bos saya (seorang konglomerat yang lebih suka namanya tidak dikenal), ia memberi saya nasehat bagus tentang investasi keuangan yang paling unggul. Dia bilang, "Dwi, investasi yang menghasilkan return yang paling besar adalah investasi pada pendidikan anak. Jika anak kita didik hingga pintar, ia akan bisa cari uang dengan cepat dan mudah. Ia tidak akan mengendus-endus warisan..."
Memang benar, investasi bagi pendidikan anak adalah investasi keuangan yang paling unggul. Jadi bagi anda yang sudah investasi yang besar untuk pendidikan anak, jangan merawa khawatir jika anda belum kaya raya. Investasi yang anda tanam, insya Allah akan dibalas dunia dan yang lebih penting, pahala akherat.
Satu tips yang bisa membantu kita mengelola keuangan adalah jangan terlalu sering pergi ke mal/supermarket. Kita adalah impulse buyer. Ketika kita sedang jalan-jalan ke mal hanya untuk refreshing, saat itu tidak ada agenda untuk beli apa-apa. Tapi begitu kita di mal, tiba-tiba terpikir banyak hal yang harus kita beli. Tiba-tiba kita ingat sabuk kita yang sudah aus, atau kaos yang hanya itu-itu saja, atau tas yang rasanya sudah out of date dsb.
Ketika kita timbul impulse itu, sebaiknya jangan beli apa-apa. Kita lebih baik ke rumah dan membuat serangkaian proses pembelian perusahaan (meniru SOP sebuah perusahaan):
1) Apakah manfaat sesungguhnya dari barang itu (untuk mengganti, karena rusak, tidak berfungsi, dst)
2) Apakah manfaat itu melebihi biaya (harga) yang kita keluarkan? Kadang-kadang kita hanya emosi tanpa berpikir benar tentang benefit satu barang.
3) Adakah produk pengganti yang lebih murah namun mendatangkan manfaat yang sama?
4) Adakah anggaran yang khusus disediakan untuk beli barang itu?
5) Jika memakai anggaran lain, apakah tidak ada dampak negatif terhadap rencana yang kita siapkan itu
6) Akankah pembelian itu membawa benefit jangka panjang? Misalnya ingin beli jam rolex (asli) dengan harapan lebih percaya diri dsb.
7) Bisakah pembelian itu diputuskan satu bulan lagi? (Sering kali begitu satu bulan telah lewat, barang itu ternyata sudah kehilangan daya tariknya.
8) Alasan lainnnya (anda bisa menambah sendiri...)
Andaikata anda memakai metoda ini untuk mengelola keuangan anda, anda akan terbebas dari impulse buyer yang sangat sering menggerogoti keuangan kita. Okay, selamat mengelola uang anda ya...Atau anda mungkin ingin pakai buku tulis seperti teman tua saya?...
Jumat, 12 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
2 komentar:
ketika masa itu tiba, 10.000 menjadi 1.000..
tapi ketika masa itu berlalu 10.000 tsb rasanya menjadi 1.000.000...hicks...
dulu pas kursus nikah, juga diajarin nulis semua pengeluaran. tapi kok kayaknya ga sanggup. mungkin bisa jadi resolusi tahun 2009, hehehe...
Posting Komentar